EKOLOGI BUDAYA DAN NILAI KEARIFAN LOKAL POHON SAGU DALAM DIMENSI MASYARAKAT SUKU TOLAKI

Cultural Ecology and Value of Local Wisdom of The Sago Tree in The Dimensions of Tolaki Tribal Society

Authors

  • Sabaruddin Sinapoy Fakultas Hukum, Universitas Halu Oleo
  • Basrin Melamba Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo
  • Herman Herman Fakultas Hukum, Universitas Halu Oleo

DOI:

https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v10i3.1163

Keywords:

Cultural Ecology, Local culture, Sago, Indigenous Peoples of the Tolaki Tribe

Abstract

Sinapoy, S., Melamba, B., & Herman. (2021). Ekologi budaya dan nilai kearifan lokal pohon sagu dalam dimensi masyarakat suku Tolaki. ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial Dan Budaya, 10(3), 323–342. https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v10i3.1163

 

 

 ABSTRACT

Sago, as the identity of the indigenous people of the Tolaki tribe, besides having many values ​​and benefits also contains historical and philosophical values, so that the position of sago is very important to the life of the Tolaki ethnicity in Southeast Sulawesi. Philosophical values ​​contained in sago plants/trees are the values ​​of local wisdom related to its relationship with culture and the environment called cultural ecology. Local wisdom in cultural ecology for the indigenous people of the Tolaki tribe is always interconnected to the "kalosara" philosophy. Thus, the value of lakol sago wisdom in cultural ecology can be seen from the implementation of the "kalosara" philosophy itself. The survivability of the Tolaki people and their culture to date in the management and utilization of sago plants/trees is very likely due to this universal nature. Thus, the cultural ecology of the local community through its local wisdom regulates the pattern of community behavior. Community behavior patterns based on local wisdom tend to be more ecological than modern societies that do not use local wisdom in their lives. Local wisdom acts not only as a controller of individual human life, but it should also have thought of the survival of other humans in the area and also the sustainability of the surrounding natural environment as one of sustainable development goals.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Basrin Melamba, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Herman Herman, Fakultas Hukum, Universitas Halu Oleo

Fakultas Hukum, Universitas Halu Oleo

References

Abdoellah, O.S., (2017). Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Gramedia 2017

Abidin, Z. & Musadar. (2018). Analisis persepsi masyarakat terhadap pangan lokal sagu di Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Berkala Ilmiah Agribisnis Agridevina, 7(1), 2018.

Nur, B. A., & Syahrul. (2020). Leadership education based on local traditions in the Tolaki community in Konawe District. Shautut Tarbiyah, 26 (1), 2020.

Daulay, Z. (2011). Pengetahuan Tradisional: Konsep, Dasar Hukum, dan Praktiknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ega. (2009). Manfaat Mengkonsumsi Sagu bagi Masyarakat Maluku. Komunikasi Pribadi.

Ehara, H. (2019). Potency of sago palm as carbohydrate resource for strengthening. Jurnal Agronomi Indonesia, 37(3), 2019.

Ehara, H., Susanto, S., Mizota, C., Hirose, S., & Matsuno, T. (2000). Sago palm (metroxylon sagu, arecaceae) production in the eastern archipelago of Indonesia: Variation in morphological characteristics and pith-dry matter yield. Econ. Bot. 54, 2000.

Fauzi, R. (2021). Sagu sebagai makanan khas Papua. https://ourstory.id/sagu-sebagai-makanan-khas-papua/, 13 Januari 2021. Diakses tanggal 21 Juni 2021.

Febrianto, A.W. (2020). Handout Mata Kuliah Antropologi Ekologi, tanggal 30 Juni 2020. Diakses tanggal 21 Juni 2021.

Hariyanto, B. (2011). (2011). Manfaat tanaman sagu (metroxylon sp) dalam penyediaan pangan dan dalam pengendalian kualitas lingkungan. Jurnal Teknologi Lingkungan, 12(2), 2011.

Kanisius, P. (2012). Hubungan erat alam dan budaya dalam masyarakat, https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5510c9ed813311ca35bc70a6/hubungan-erat-alam-dan-budaya-dalam-masyarakat, 4 Juni 2012. Diakses pada tanggal 21 Juni 2021.

Koentjaraningrat. (1981). Pengantar Ilmu Antropologi. Bandung: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. (2004). Kebudayaan Mentalis dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kompasiana. (2005). Kearifan warga Tolaki melestarikan lingkungan, https://www.kompasiana.com/wahanalatambaga/555c14f1f092739812f9f86b/kearifan-warga-tolaki-melestarikan-lingkungan, 20 Mei 2015. Diakses pada tanggal 21 Juni 2021.

Kristiawan, N. (2017). Pola adaptasi ekologi budaya tiga komunitas di Jambi. Jurnal Bhumi, 3(2), 2017.

Mattulada, L. (1985). Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi-Politik. Makassar: LEPHAS.

Nur, G. N. S. (2021). Ekologi budaya sebagai wawasan pokok dalam pengembangan masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Jurnal Tambora, 5(1) , 2021.

Ruhulessin, C.T. F. (2020). Fi ra wali: Revitalisasi folklor “saguku hidupku” sebagai identitas kultural dalam kosmologi masyarakat Sentani-Papua. Jurnal Filsafat, 30(2), 2020.

Soemarwoto, O. (2001). Ekologi, Lingkungan dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.

Steward, J. H. (1955). Theory Of Culture Change. London (US): Univ of Illinois Pr.

Sultan. (2018). Tuturan tolea dalam ritual pesta adat mosehe wonua suku Tolaki Mekongga di Kabupaten Kolaka: Kajian semiotika (Tesis). Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Sumaryanto. (2009). Diversifikasi sebagai salah satu pilar ketahanan pangan. Jurnal Agro Ekonomi, 27 (2), 2009.

Suparman. (2013). Makna dan simbol tuturan ritual pascapemakaman masyarakat tangru suatu tinjauan semiotic (Tesis). Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Susilo & Rachmad KD. (1990). Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Takamura, T. (1990). Present research activities and the problems on sago palm. Jpn. Journal. Trop. Agric. 34.

Tarimana, A. (1985). Budaya Tolaki: Seri Etnografi Indonesia No: 379 (Cetakan kedua). Jakarta: Balai Pustaka.

Ungirwalu, A., Awang S. A., Maryudi, A., Suryanto, P. (2016). Pengelolaan adaptif pemanfaatan buah hitam (haplolobus monticola blumea) Etnis Wandamen-Papua. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 23(2), 2016.

Warami, H. (2013). Khazanah pengetahuan lokal etnik Waropen-Papua. Jurnal Ilmiah Langua (Journal Of Linguistic Research), 2(2), 2013.

Wibowo, H. A., Wasino, Setyowati, D. L. (2012). Kearifan lokal dalam menjaga lingkungan hidup: Studi kasus masyarakat di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Jurnal of Educational Social Studies, 1(1), 2012. DOI: 10.15294/JESS.V1I1.79

Yuwono, S. (2006). Persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan (Tesis). Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Additional Files

Published

2021-10-31

How to Cite

Sinapoy, S., Melamba, B., & Herman, H. (2021). EKOLOGI BUDAYA DAN NILAI KEARIFAN LOKAL POHON SAGU DALAM DIMENSI MASYARAKAT SUKU TOLAKI: Cultural Ecology and Value of Local Wisdom of The Sago Tree in The Dimensions of Tolaki Tribal Society. ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial Dan Budaya, 10(3), 323–342. https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v10i3.1163

Issue

Section

Volume 10 Nomor 3, Oktober 2021