##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Fitriani Fitriani Syamsumarlin Syamsumarlin La Ode Aris

Abstract

This study aims to determine the implementation process and function of Dewa Ayu dance in the social and cultural life of Balinese people in Roko-Roko Village, Tirawuta District, East Kolaka Regency. In addition, it is also to find out the meaning of symbols contained in Dewa Ayu dance. This research uses Bronislaw Malinowski's functionalism theory and Victor Turner's symbol theory. Data collection is done through observation techniques and in-depth interviews. The results of the study indicate that the ritual of Dewa Ayu dance is a sacred dance, which is danced by women who have received the blessing of a god called the clone. This ritual is very important for the life of the Balinese so that it has many functions including religious functions, psychological functions, artistic functions, social functions, educational functions, and social integration functions. There are several meanings of symbols contained in both the equipment used and in the behavior displayed by the dancers and the local community. This ritual is carried out in four stages, namely: searching/eating, greeting, holding/dancing, and washing/drinking holy water.

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Keywords

dewa ayu dance, ritual, function, symbolic meaning, ancestors

References
Febriani, Feby , dkk. (2014). Persepsi Dan Minat Petani Nenas Terhadap Usaha Agroindustri Nenas. Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Riau. Vol 1 No 2

Andika, S. B. S. (2015). Perkembangan Tari Dames di Desa Padamara Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga. Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Aprilina, F. A. D. (2014). Rekontruksi Tari Kuntulan Sebagai Salah Satu Identi-tas Kesenian Kabupaten Tegal. Jurnal Seni Tari, 3(1).

Benard, R. H. (1994). Research Methods in Anthropology, London- New Delhi: SAGE Publictions.

Bratawidjaya, Wiyasa. (1985). Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Pustaka Sinar Harapan.

Endraswara, S. (2001). Metedelogi Penelitian Kebudayan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hermawan, I. G. B. A., I. Gusti M. A. dan Ketut S. A. (2015). Tradisi Tari Sanghyang Bojog di Desa Pakraman Bugbug, Karangasem, Bali (Latar Belakang, Fungsi, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Kebudayaan di SMA), Jurnal Widya Winayata, 3(1).

Koentjaraningrat. (1987). Sejarah Teori Antropologi Jilid I. Jakarta: UI Press.

Kusumayanti, H. (1990). Makna Tari Dalam Upacara Di Indonesia. dalam Pidato Ilmiah pada Dies Natalis Keenam Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, p.2.

Kistanti, R. A. (2013). Upacara Benta-Benti merupakan kesenian tradisional yang dijadikan sebagai upacara peminta hujan oleh masyarakat Desa Siandong, Kecamatan arangan, Brebes. Skripsi Universitas Negeri Semarang.
Notusudirjo, S. (1990). Kosa Kata Bahasa Indonesia. Yogyakarta, Kanisius.

Primasari, D. 2017. Revitalisasi Tari Pakarena Laiyolo pada Sanggar Selayar Art. Di Kabupaten Kepulauan Selayar. Skripsi Insitut Seni Indonesia, Surakarta.

Sumandiyo, Y Hadi. (2000). Seni Dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Sarastiti, D. (2012). Bentuk Penyajian Tari Ledhek Barangan di Kabupaten Blora, Skripsi, Universitas Negeri Semarang.

Sedyawati, E. (1987). Seni dalam Masyarakat Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 1989, Budaya Indonesia Kajian Arkeologi Seni dan Sejarah, Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Spradley, J. (1997). Metode Etnografi, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Sugiyono. (2010). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, CV.

Soedarsono, R.M. (2014). Karakter Dalam Tari Gaya Surakarta, ISI: Surakarta, Jurnal Seni Tari,12(2).

Sumaryono. (2011). Antropologi Tari, Yogyakarta: Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta, p.70.

Winangun, Wartaya Y.W. (1990). Masyarakat Bebas Struktur,. Yogyakarta: Kanisius.

Widiantari, I. G. A. M. (2017). Tari Nampyog dalam Piodalan di Pura Samuantiga Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh Gianyar, Jurnal Dharmasmrti, 15(1).

Wulandari, Retno. (2001). Kesenian Sampyong di Desa Pamiritan Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Skripsi pada Program Studi Pendididkan Seni Tari Jurusan Sendratasik Fakultas Seni dan Bahasa. UNNES
Section
Volume 8 Nomor 1, Februari 2019

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>