##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Mohammad Halili Erika Citra Sari Hartanto

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konstruksi budaya collectivism untuk mengoptimalkan pertanian jagung. Budaya collectivism merupakan prilaku sosial yang mengedepankan capaian kelompok dari pada capaian individu (individual’s goals). Dalam konteks ini, sistem budaya collectivism ini telah menyatukan persepsi masyarakat akan pentingnya gotong royong dari pada sistem upah misalnya dan juga merekatkan ikatan emosional (emotional attachment) antar individu, mendorong terciptanya concerns bersama, serta social sharing. Begitu nilai-nilai budaya ini tidak lagi menjadi landasan perilaku keseharian mereka, maka kegiatan bertani jagung hanya bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang semata-mata berkaitan dengan peluh dan lelah saja. Dengan demikian, bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika tren masyarakat setempat saat ini cendrung mencari alternatif lain selain bertani jagung untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara lahan desa, secara geografis, sangat mendukung untuk pengembangan pertanian jagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan purposive/judgement sampling dengan metode interview. Pendekatan purposive/judgment sampling berarti peneliti menggunakan kriterianya sendiri untuk menentukan sampel yang akan terlibat dalam penelitian. Selain itu, pemanfaatan teknologi recording juga dilakukan untuk antisipasi data hilang dan memudahkan peneliti untuk me-recall data saat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi budaya collectivism yang meliputi pemberian dha’erran (makanan) serta jokes (candaan) berasosiasi positif dengan kegiatan bertani jagung. Melalui konstruksi budaya ini concerns bersama dan social sharing dapat terbangun kembali. Dengan demikian, hasil pertanian jagung bisa optimal dan keinginan mereka untuk tetap bertani tetap terjaga.

Downloads

Download data is not yet available.

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Keywords

budaya collectivism, konstruksi, optimalisasi, pertanian jagung

References
Caldwell-Harris, C. L., & Ayçiçegi, A. (2006). When Personality and Culture Clash: ThE Psychological Distress of Allocentrics in an Individualist Culture and Idiocentrics in a Collectivist Culture. Transcultural Psychiatry, 43(3), 331–361. https://doi.org/10.1177/1363461506066982

Darwish, A.-F. E., & Huber, G. L. (2003). Individualism vs Collectivism in Different Cultures: A cross-cultural study. Intercultural Education, 14(1), 47–56. https://doi.org/10.1080/1467598032000044647

Davies, J., Spear, D., Chappel, A., Joshi, N., Togarepi, C., & Kunamwene, I. (2019). The Climate-Smart Agriculture Papers. The Climate-Smart Agriculture Papers, 187–197. https://doi.org/10.1007/978-3-319-92798-5

Ed Diener, Marissa Diener, and C. D. (1995). Factors Predicting the Subjective Weil-Being of Nations. Journal of Personality and Social Psychology, 69(5), 851–864. https://doi.org/DOI: 10.1037//0022-3514.69.5.851

Etikan, I. (2016). Comparison of Convenience Sampling and Purposive Sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5(1), 1. https://doi.org/10.11648/j.ajtas.20160501.11

Georgas, J. (1989). from the SAGE Social Science Collections . Rights Reserved . Journal of Cross-Cultural Psychology, 20(1), 122–136. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/0022022189201005

Gupta, V., & Kirwan, P. (2013). Role of in-group collectivism in the longevity of family firms. Global Business Perspectives, 1(4), 433–451. https://doi.org/10.1007/s40196-013-0022-7

Hancock, B. (2006). An Introduction to Qualitative Research Au t hors. Qualitative Research, 4th, 504. https://doi.org/10.1109/TVCG.2007.70541

Hofsted, G, Bond, M., H. (1984). Hofstede’s Culture Dimensions: An Independent Validation Using Rokeach’s Value Survey. Journal of Cross-Cultural Psychology, 15(4), 417–433. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/0022002184015004003

Mesquita, B. (2001). Emotions in collectivist and individualist contexts. Journal of Personality and Social Psychology, 80(1), 68–74. https://doi.org/10.1037/0022-3514.80.1.68

Morris, M. H., Williams, R. O., Allen, J. A., & Avila, R. A. (1997). Correlates of success in family business transitions. Journal of Business Venturing, 12(5), 385–401. https://doi.org/10.1016/S0883-9026(97)00010-4

Sharma, P., Chrisman, J. J., Chua, J. H., Skorková, Z., Matei, A., Enescu, E.-B., Puiu, S., Matei, A., Bujac, R., Ranerup, A., Henriksen, H. Z., Hedman, J., Lewis, R. E., Heckman, R. J., Ahmadi, A. A., Day, D. V., CPS HR Consulting, Brânzaş, B. V., Radu, I., … Mcgee, R. (2003). Succession Planning as Planned Behaviour. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 16(1), 1–14. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877050915035978%250Ahttp://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042812044667%250Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.02.516%250Ahttp://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S187704281402

Sumanto, A. (2009). Identifikasi Faktor-Faktor Sosial-Ekonomi Migrasi Tenaga Kerja. Jesp, 1(2).
Szymonifka, J., & Healy, B. C. (2014). Basic statistics. MGH Cardiology Board Review, 224–237. https://doi.org/10.1007/978-1-4471-4483-0_13
Section
Volume 9 Nomor 3, Oktober 2020