Sastra Lisan Sulawesi Tenggara sebagai Referensi Kultural dalam Pembelajaran Karakter Siswa di Tengah Invasi Media Sosial

  • Wd. Sinta Kalsum SMPN Satap Mantigola, Kabupaten Wakatobi

Abstract

Kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Salah satu dampak tersebut adalah kehidupan sosial masyarakat bertransformasi kedalam dua ruang interaksi, yaitu dimensi nyata dan maya. Orang tua, terutama anak tidak hanya terlibat dalam interaksi sosial langsung tetapi juga interaksi virtual yang beberapa tahun belakangan sangat viral dan masif, misalnya facebook dan sejenisnya. Intensitas hubungan antara anak dengan orangtua berkurang, dan mulai bergeser menjadi interaksi transaksional. Fungsi kontrol, serta transfer nilai- nilai pendidikan karakter dari orangtua kepada anak semakin luput. Fenomena ini merupakan salah satu tantangan yang perlu dijawab oleh pendidik di sekolah melalui pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter. Sastra lisan merupakan khasanah budaya yang sarat akan nilai- nilai religius, moral, etika, dan dapat dijadikan sebagai referensi kultural untuk pendidikan karakter di sekolah. Sastra lisan yang diangkat dalam tulisan ini adalah sastra lisan di Sulawesi Tenggara. Sastra lisan yang dipilih harus memenuhi kriteria pesan dan unsur instrinsik, serta relevansi dengan topik pelajaran. Guru berperan penting sebagai fasilitator yang memadukan sastra

lisan terpilih kedalam pembelajaran karakter yang baik secara berkesinambungan. Dengan demikian, pembelajaran yang didapatkan di sekolah memberikan exposure konstruktif terhadap pembentukan karakter siswa. Upaya tersebut perlu diperkuat dengan exposure nilai- nilai teladan dari kepribadian guru, serta treatment yang relevan dari orang tua siswa.   

Kata kunci: sastra lisan Sulawesi Tenggara, pembelajaran karakter, media sosial

 

 

Published
2018-06-01
Section
PEMBELAJARAN