• PEMBELAJARAN

    Pada bagian pembelajaran, menampilkan tulisan yang berkaitan dengan isu-isu baru dalam pembelajaran. Mulai dari pendidikan karakter yang menjadi jargon pemerintah dalam beberapa tahun terakhir hingga dampak kemajuan teknologi yang juga mempengaruhi pembelajaran dalam masyarakat. Dalam tulisan Abdul Jalil dan Mu’jizat misalnya, mereka mencoba meneliti perbandingan nilai-nilai pendidikan karakter yang ada pada kitab Taklimul Muta’allim dengan Program Pendidikan Karakter lingkup Fakultas oleh FIB UHO. Penelitian mereka menunjukkan bahwa beberapa program atau materi yang ada dalam pendidikan karakter FIB UHO dengan apa yang ada dalam kandungan kitab Ta’limul Muta’alim hampir bisa dipastikan baik dan sama dalam kerangka menumbuhkan pendidikan yang baik, menjadikan peserta didik (mahasiswa) lebih berbudi mulia, berakhlakul karimah tanpa mengurangi kecerdasan keilmuan, namun seiring perkembangan zaman, kecerdasan secara pengetahuan peserta didik kita telah menghilangkan moralitas. 

  • SASTRA

    Pada bagian sastra, buku ini memperbincangkan berbagai masalah yang berhubungan dengan sastra, mulai dari sastra lisan dan pengaruhnya bagi masyarakat, hingga persoalan kehidupan sosial di dalam novel. Misalnya tulisan Rima Devi yang melakukan kajian komparatif pada dua novel yang berasal dari Indonesia dan Jepang yaitu Novel Di Bawah Bayang-Bayang Ode karya Sumiman Udu dan Novel Kifujin A No Sosei Karya Ogawa Yoko. Melalui kajian ini kita dapat memahami bagaimana keluarga di dunia timur memiliki kemiripan dalam beberapa hal, tetapi juga memiliki perbedaan dalam beberapa hal yang lain, sebagai pengaruh dari lingkungan yang berbeda.

  • LITERASI

    Bagian Literasi, menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan literasi. Dalam artikel pertama misalnya, Sumiman Udu menggali peran literasi sebagai jembatan emas pembangunan peradaban bangsa. Dalam tulisan tersebut, ia menjelaskan tentang betapa literasi sudah menjadi kekuatan bangsa-bangsa dalam membangun peradaban bangsanya. Beberapa kerajaan besar di Nusantara memiliki sistem literasi yang handal sebagai kekuatan kebudayaan mereka dalam membangun peradaban mereka. Buton tidak akan punya apa-apa tanpa memiliki warisan literasi untuk generasinya saat ini. Sementara dalam membangun Universitas, bangsa-bangsa maju sangat memprioritaskan perpustakaan sebagai bagian dari sistem literasi mereka. Beberapa langkah yang juga dapat dijadikan sebagai upaya membangun literasi juga diupayakan dalam berbagai aktivitas, baik melalui debat ditingkat sekolah, hingga lahirnya berbagai lembagalembaga literasi, seperti kebangkitan literasi tanah ombak di Padang, gerakan yang sama juga terjadi di Kendari seperti hadirnya Pustaka Kabhanti serta menjamurnya berbagai kegiatan literasi di berbagai belahan dunia. Semua ini akan mengantarkan kualitas kehidupan manusia, menuju keberadaban kehidupan yang lebih berkualitas.
    Upaya-upaya pembangunan literasi juga sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan, berbagai upaya telah dilakukan, misalnya melalui pembangunan penerbitan-penerbitan yang dimotori oleh orang-orang Tionghoa, semua menjadi suatu upaya untuk membangun peradaban manusia. Semua ini merupakan wujud dari betapa pentingnya literasi dalam membangun peradaban manusia. Melalui kertas kerjanya Wisnu menjelaskan tentang besarnya peran masyarakat Tionghoa dalam membangun literasi di zaman penjajahan Belanda di Nusantara.