##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

##plugins.themes.bootstrap3.article.sidebar##

Published Dec 10, 2018
Niluh Putu Ayu Wardani La Ode Ali Basri Ajeng Kusuma Wardani

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk gerak, makna dan pola pewarisan tari rejang dewa pada masyarakat Bali di Desa Puuroe Kecamatan Angata Kabupaten Konawe Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam (indepth interview) yang didukung dengan dokumentasi dan perekaman/video. Informan ditentukan secara purposive. Informan dalam penelitian ini adalah penari, guru tari, tokoh adat dan masyarakat. Teknik analisis
data dalam penelitian ini terdiri dari empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk gerak tari rejang dewa pada masyarakat Bali di Desa Puuroe sekarang ini ada enam gerakan yaitu (1) gerak pembuka diawali dengan sekelompok penari berbaris sejajar kebelakang membentuk satu baris sambil berjalan setengah jinjit kedepan dengan seorang penari yang berada didepan meletakkan kedua tangan di depan dada dan penari lainnya yang berada di baris belakang memegang selendang penari lainnya. Lalu para penari berpencar sambil melepas selendang dan membentuk dua baris yang setiap barisnya terdapat tiga orang penari, (2) gerak ngagem adalah sikap dasar tari Bali yang artinya bersiap, dalam tari rejang dewa artinya bersiap untuk menyambut datangnya para Dewa yang turun ke bumi dan berstana di pralingga atau bangunan suci seperti pura terdiri atas dua gerak yaitu ngagem kanan yaitu gerakan tari yang dimulai dari sebelah kanan dan ngagem kiri yaitu gerakan yang dimulai dari sebelah kiri, (3) gerak nedunan dalam tari rejang dewa artinya menyambut, jadi gerakan nedunan mengambarkan sikap sedang menyambut datangnya para Dewa yang turun ke bumi. (4) gerak ngayab artinya mempersembahkan atau mempersilahkan, gerakan ini berarti mempersembahkan sesajen yang telah disiapkan oleh krama desa atau masyarakat setempat. (5) gerak ngewaliang artinya mengembalikan, jadi gerak ngewaliang dalam tari ini artinya mengembalikan sifat-sifat adharma (tidak baik) menjadi dharma (baik) atau menyebarkan aura positif agar sebelum melakukan persembahyangan atau upacara inti suasana telah menjadi jalan dharma (kebaikan), dan (6) gerak penutup yang menandai pertunjukan tari telah selesai. Makna tari rejang dewa adalah sebagai makna edukasi, makna religi, makna estetika, dan bermakna
hiburan.

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Keywords

Tari Rejang, Bbentuk, Makna dan Pola Pewarisan

References
Bauman, Richard & Pamela Rith. 1994. Informing Performance: Producing the Coloquio in Tierra Blanca. Oral Tradition Journal, 9/2, hal 255-280.

Basri, La Ode Ali. 2017. Ketidak Bertahanan Budaya Lokal Masyarakat Muna. Surabaya: Universitas 17 Agustus 1945.

Jazuli. 1994, Telaah Teoretis Seni Tari, Semarang : IKIP Semarang Press.

Maharani, Ni Luh Enita. 2016. Fungsi Tari Rejang Adat Klasik Dalam Upacara Piodalan Di Pura Sanggar Agung Desa Bebandem Kabupaten Karangasem Bali. Yogyakarta : Pendidikan Seni Tari.

Miles & Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode- Metode Baru. Alih bahasa: Tjetjep

Rohendi Rohidi. 1992. Jakarta: UI Press.

Senen, I Wayan. 2005. Perempuan dalam Seni Pertunjukan di Bali. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Soedarsono.2003.Seni Pertunjukan dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi, Yogjakarta : Gajah Mada University Press.

Yudabakti, I Made dan Watra, I Wayan. 2007. Filsafat Seni Sakral Dalam Kebudayaan Bali. Denpasar: Paramita
Section
Volume 1 Nomor 2, Juli-Desember 2018