REINTERPRETASI KESADARAN PRAKTIK BERBAHASA LOKAL DI INDONESIA

  • Made . Budiarsa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali Indonesia

Abstract

Makalah ini membahas kesadaran berbahasa penutur bahasa lokal dalam praktik berbahasa. Untuk menginterpretasikan pemakaian bahasa-bahasa lokal digunakan perspektif dualitas penutur bahasa dan bahasa sebagai aturan sekaligus sarana praktik berbahasa dalam ruang dan waktu tertentu.

Data bahasa lokal ditunjukkan oleh Badan Bahasa (2011) yang memetakan sekitar 514 bahasa-bahasa lokal di Indonesia.Di sisi lain, situasi kebahasaan di Indonesia memungkinkan terjadinya kontak bahasa dan budaya antara bahasa-bahasa lokal dengan bahasa Indonesia atau dengan bahasa asing. Dualitas penutur bahasa ditunjukkan oleh pemakaian bahasa lokal, bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Dengan dualitas yang dimiliki oleh penutur, bahasa-bahasa lokal tetap memiliki pesonanya terbukti dengan adanya kontribusi kosakata bahasa-bahasa lokal ke dalam bahasa Indonesia. Secara nyata, dualitas penutur dan bahasa tampak dalam KBBI Edisi Keempat (2008) yang memuat 3.592 entri dari kurang lebih 70 bahasa lokal. Data tersebut perlu direinterpretasi agar penutur bahasa lokal memiliki kesadaran berbahasa sesuai dengan pemakaiannya dalam praktik berbahasa.

Berdasarkan perspektif dualitas, penutur bahasa-bahasa lokal memiliki relasi dualitas dengan bahasa-bahasa lokal. Dualitas ditunjukkan oleh kapasitas transformatif penutur bahasa lokal dalam praktik berbahasa. Penutur bahasa bukanlah aktor yang pasif, ia mampu memilih dan memakai bahasa sesuai dengan kapasitasnya.  Penutur bahasa merupakan aktor konkret dalam perulangan praktik berbahasa. Bahasa tidak hanya menjadi aturan ‘langue’ yang membatasi ‘constraining’ tetapi sekaligus menjadi sumber daya yang memungkinkan ‘enabling’  penutur  praktik berbahasa ‘parole’.

Hasil reinterpretasi menyarankan hal-hal: (1) perlunya kesadaran kognitif, yaitu motif untuk berbahasa lokal bagi penuturnya, (2) perlunya kesadaran reflektif, yaitu kesadaran  penutur untuk berbahasa lokal,  dan (3)  perlunya kesadaran praktis, untuk membiasakan penutur menggunakan bahasa lokal dalam ruang dan waktu tertentu.

 

Kata kunci: dualitas, kesadaran kognitif, kesadaran reflektif, kesadaran praktis

Published
2017-01-05
Section
Makalah Simposium Internasional Bahasa, Sastra dan Budaya 2016