KHAZANAH LEKSIKON TANAMAN PANGAN ETNIK NAGEKEO: KAJIAN EKOLINGUISTIK

  • VERONIKA GENUA . Universitas Flores
Keywords: leksikon, hiponin, relasi dan makna referensial

Abstract

Tulisan ini  memaparkan tentang nomenklatur jenis tanaman  pertanian.  Leksikon jenis tanaman dapat diklasifikasi menjadi tanaman umu dewa’ umur panjang’ dan umu bhoko ‘umur pendek’.. Secara linguistik  dapat dikaji dari berbagai leksikon terutama nomenklatur jenis tanaman yang mulai menghilang berdasarkan kategori linguistik. Masalah yang diangkat  tentang khazanah leksikon tanaman pangan  dan hubungan referensial  dengan tanaman pada etnik  Nagekeo.  Tujuannya  mendeskripsikan khazanah leksikon dan hubungan referensial tanaman pangan etnik Nagekeo. Hasil analisis menunjukkan bahwa  secara semantik makna referensial eksternal pada leksikon tersebut hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat. Terdapat leksikon tanaman umu dewa ‘umur panjang’ dan tanaman umu bhoko ‘umur pendek’ mencerminkan relasi yang harmonis. Hal ini disebabkan karena hubungan antara bentuk yang berhiponim dengan bentuk yang berhipernim memperlihatkan relasi yang erat. Demikian juga relasi antara bentuk yang hiponim dengan bentuk yang kohiponim. Relasi tanaman pangan baik umur panjang umu dewa ataupun tanaman pangan umur pendek umu bhoko memiliki hubungan referensial pada bentuk atau wujud, kesamaan warna, kesamaan kepemilikkan, kesamaan manfaat, kesamaan rasa,  kesamaan cara, kesamaan tempat tumbuh, kesamaan asal,  dan kesamaan sifat atau keadaan.

Kata kunci: leksikon,  hiponin, relasi dan makna referensial

References

Djajasudarma, T. F. (2012). Semantik 1 Makna Leksikal dan Gramatikal. Bandung: Refika Aditama.

Fill, A., & Muhlhausler, P. (2001). The Ecolinguistics Reader language, Ecologi, and Enviroment. London and New York: Continuum.

Keraf, A. S. (2014). Filsafat Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius.

Neonbasu, G. (2016). Citra Manusia Berbudaya. Jakarta: Antara.

Rahyno, F. X. (2012). Studi Makna. Jakarta: Penaku.

Rahyono, F. X. (2015). Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Wahyudi. (2013). Buku Pegangan Hasil Hutan Bukan Kayu. Yogyakarta: Pohon cahaya.

Djajasudarma, T. F. (2012). Semantik 1 Makna Leksikal dan Gramatikal. Bandung: Refika Aditama.

Fill, A., & Muhlhausler, P. (2001). The Ecolinguistics Reader language, Ecologi, and Enviroment. London and New York: Continuum.

Keraf, A. S. (2014). Filsafat Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius.

Neonbasu, G. (2016). Citra Manusia Berbudaya. Jakarta: Antara.

Rahyono, F. X. (2015). Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Wahyudi. (2013). Buku Pegangan Hasil Hutan Bukan Kayu. Yogyakarta: Pohon cahaya.
Published
2017-01-07
Section
Makalah Simposium Internasional Bahasa, Sastra dan Budaya 2016