DINAMIKA PENGGUNAAN BAHASA BINTE PADA KALANGAN REMAJA DI KOTA RAHA SULAWESI TENGGARA

  • Laxmi. . Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
  • Akhmad Marhadi , Sarjono Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Keywords: Bahasa, Binte dan Pemuda.

Abstract

Bahasa merupakan hasil peradaban dari sosialisasi manusia yang di dalamnya berperan penting dalam mendorong terbentuknya sebuah kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan bahasa merupakan suatu unsur pokok dalam kehidupan bermasyarakat, namun demikian dalam prakteknya setiap masyarakat memiliki bahasa yang berbeda, baik dari bahasa daerahnya hingga pada bahasa yang dianggap trend atau sebagai bahasa gaul. Salah satu kelompok yang banyak menggunakan bahasa gaul diantaranya terdapat di Kabupaten Muna khususnya remaja yang berada di Kota Raha. Bagi kelompok remaja di Kota Raha, sering kali menggunakan kata-kata yang dikenal dengan bahasa Binte. Tujuan penggunaan bahasa Binte pada saat terjadi peristiwa konflik antar remaja adalah untuk menyembunyikan cerita atas kejadian yang sebenarnya dari pihak keamanan maupun pihak-pihak lain. Bahasa Binte mencirikan sifat solidaritas dari remaja yang selalu bersatu untuk membela teman anggota kelompoknya. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menerapkan metode observasi, partisipasi observasi dan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dengan cara bertatap muka langsung dan berkomunikasi bersama informan. Informan bersumber dari informan kunci maupun informan biasa, dengan mengacu pada (Spradlay. 1997).

            Hasil Penelitian menunjukkan bahwa awal mula timbulnya penggunaan bahasa Binte sebagai isyarat informasi antara kelompok pemuda yang berkonflik agar tidak diketahui pemuda lain. Bahasa Binte sebagai bahasa persatuan di kelompok pemuda di Kota Raha. Dari sisi pembentukan kata Huruf-huruf yang ada dalam bahasa Binte seperti huruf a,i,u,e, dan o tidak mengalami pergantian huruf, sedangkan huruf yang lain seperti B sampai dengan Z mengalami pergantian. Pada aspek penggunaannya bagi pelajar, jika menggunakan bahasa Binte maka pembicaraan semakin akrab dan saling membuat suasana gembira satu sama lain, menambah keakraban dalam hubungan antara masyarakat di lingkungannya. Fungsi bahasa Binte antara lain sebagai solidaritas antara kelompok pemuda khususnya dalam mengungkapkan ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Bahasa Binte selalu menjadi bagian yang tidak pernah lepas dari identitas mengadakan kontak baru. Fungsi bahasa Binte bagi yang memiliki perseteruan akan mampu menyembunyikan sesuatu hal yang dianggap masalah, oleh karena itu bahasa Binte berfungsi pula sebagai bahasa yang memiliki nilai tersendiri.

Kata Kunci : Bahasa, Binte dan Pemuda.

References

Alatas, Alwi. 2006. Bikin Gaul Mu Makin Gaul. Bandung: Hikmah

Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Beberapa Mazdhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung : Angkasa

Chaer, Abdul. 1998, Tata Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia.

Danandjaja, James. 1982. Folklor Indonesia. Jakarta. Grafiti.

Denzim, Norman K danYvonna S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Diterjemahkan oleh Dariyatno, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Eco, Umberto. 1976. Teori Semiotika (Teori Kode), Sidorejo Bumi Indah: Kreasi Wacana.

Finch, Geoffrey. 1998. How to Study Linguistics. London: Macmillan.

Hjelmslev, Louis. 1943. Prolegomena to a Theory of Language. Madition: University of Wisconsin, 1961

Honey, John. 1997. Language is Power. London: Faber and Faber

Jones, Pip. 2009. Introducing Sosial Theory (Terjemahan Achmad Fedyani Saifuddin). Jakarta: YOI

Koentjaraningrat, 1985. Manusia dan kebudayaannya. Jakarta: Gramedia Koentjaraningrat, 1994. Metode-metode penelitian masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kridalaksana, H, 1982, Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kridalaksana, H, 2001. Kelas kata dalam bahasa indonesia. Jakarta: Gramedia.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2003. Filsafat Bahasa. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Press.

Newstlan. 2001. Manusia dan Dinamika Budaya (Bahasa dan Kekerasan): Yogyakarta: Bayu Indra Grafika.

Ritzer, George. 2004. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rumini, Sri . 2004.Perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Sahertian, Debby 2007, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sumarsono dan Paina Partana. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumber lain:
Manik, Sondang. 2004. Bahasa Gaul (Tinjauan Semantis). Medan: Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sumatra Utara.
(http://wismasastra.wordpress.com),diakses 08 Agustus 2011
Published
2017-01-07
Section
Makalah Simposium Internasional Bahasa, Sastra dan Budaya 2016