BETERNAK SAPI SECARA TRADISIONAL

Authors

  • Jumarni Jumarni Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya
  • Raemon Raemon Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Keywords:

Cattle, Traditional, Amoito Siama

Abstract

The purpose of this study was to find out and describe the traditional cattle farming system and the cattle profit-sharing system in Amoito Siama Village. The research method used in this research is descriptive qualitative. The results of this study indicate that the traditional cattle raising system in Amoito Siama Village begins with the preparation process for raising cattle, followed by the treatment process starting from feeding the cattle, giving the cattle water, and preparing the stables for the cattle. Furthermore, the profit-sharing system between the cow owner and the cattle keeper starts with building a relationship between the cow owner and the cow keeper to then enter into a profit-sharing agreement in which they agree with each other. There are two methods for the profit-sharing system in Amoito Siama Village, namely by sharing livestock or by paying wages.

References

Bungin, B. (2010). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Rajawali Pers. Jakarta.

Denzin. (2009) Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hernowo, B. (2006) Prospek Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Pedaging Di Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Jakarta.

Moleong, Lexy J. (1994). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mumfanganti, dkk (2004). Kearifan Lokal Di Lingkungan Masyarakat Samin, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah. Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan Pariwisata.

Moh. Andri Otoluwa. (2016). Prospek Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Di Kecamatan Bolangitang Timur Kabupaten Bolaang:Mongondow Utara: 1-8

Nina Wahyu Putri Siregar. (2013) Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Usaha Ternak Sapi Potong Di Desa Mangkai Lama Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara: Provinsi Sumatera Utara. Hal: 1-90.

Octavira, Nurlina dan Sulistyati (2016) Respon Peternak Terhadap Pola Bagi Hasil Anakan Usaha Ternak Kambing Perah (Studi Kasus Pada Kelompok Mandiri, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman:Yogyakarta. Hal 1-19.

Polanyi, Karl, (1968). ‘’Societies and Economic System’’, dalam George Dalton(ed). Primitive, Archaic and Modern Economies, Essays of Karl Polanyi.Boston: Beacon Press.

Sanjaya dan Sudarwati. (2015). Modal Sosial Sistem Bagi Hasil Dalam Beternak Sapi Pada Masyarakat Desa Purwasori Atas, Kecamatan Dolor Batu Nanggar Kabupaten Simalungu: Studi Kasus Sistem Gadh Sapi Pada Masyarakat Desa Purwasori Atass, Kecamatan Dolor Batu Nanggar Kabupaten Simalungun. Hal: 1-25

Spradley.P. James.(1997). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana

Yenni,Mardasari. (2018) perjanjian bagi hasil mawah lembu di kalangan masyarakat desa rabo kecamatan seulimum dalam perspektif akad murabah: Hal: 1-83

Yunianto. (2015) Urgensi Tradisi Gaduh Bagi Hasil Hewan ternak Dalam Kaitan Dengan Peningkatan Pendapatan Masyarakat: Dusun Jeruk Wangi Desa Bedono Kecamatan Jambu Kabupten Semarang.Hal. 1-40

Zainabriani dan Sirajuddin (2012) hasil pertenak sapi.: Desa Batu Pute, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Hal 14-25

Additional Files

Published

2023-08-17

How to Cite

Jumarni, J., & Raemon, R. (2023). BETERNAK SAPI SECARA TRADISIONAL. KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi, 7(1), 142–150. Retrieved from https://journal.fib.uho.ac.id/index.php/kabantiantropologi/article/view/2172

Issue

Section

Volume 7 Nomor 1, Juni 2023