MAKNA SIMBOLIK DALAM PERKAWINAN ANGKA MATA PADA MASYARAKAT MUNA

##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Sitti Hermina

Abstract

Masyarakat Muna umumnya taat dan patuh pada aturan-aturan adat yang telah ditetapkan oleh para sesepuh sehingga terwujud suatu kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Namun, sebagian besar masyarakat yang terlibat dalam proses perkawinan angka mata tidak memahami tentang makna simbolik yang ada dalam proses perkawinan tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam makna simbolik dalam proses perkawinan angka mata pada masyarakat Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowballing. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan serta wawancara mendalam dengan informan kunci dan informan pokok. Data dianalis secara deskriptif kualitataif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan dalam perkawinan angka mata pada masyarakat Muna dimulai dengan dekamata, dempali-mpali, defenagho tungguno karete, kafeena atau kabhentano pongke, kataburi, paniwi, sara-sara atau adhati bhalano, lolino ghawi, kaokanuha, kafoatoha, matano kenta, katangka/ijab qabul, dhoa salama, kafelesau, kafosulino katulu. Makna simbolik yang terkandung dalam perkawinan angka mata tersebut adalah makna religius, tanggung jawab, kejujuran, keindahan, sikap saling menghormati dan menghargai antara pihak perempuan dan pihak laki-laki.


Kata kunci : Makna simbolik, perkawinan angka mata, dan masyarakat Muna

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Keywords
References
Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Sleman: Pustaka Widyatama.

Bagyono. 2009. Memperbaharui Informasi Industri Pariwisata. Bandung: Alfabeta.

Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika : Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Couvreur, J. 2001. Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna. Kupang : Artha Wacana Press.

Danesi, Marcel. 2004. Pesan, Tanda dan Makna. Yogyakarta : Jalasutra.

Eagleton, Terry. 2007. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung: Jalasutra.

Geertz. Clifford. 1981. Abangan Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya

Hanafi, La Ode Ali. 2008. Sejarah Kebudayaan Muna. Kendari : Makalah tanpa penerbit.

Hilmahadi, Kusuma. 1998. Hukum Perawinan Adat. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Lengko, Umar. 1995. Sistem dan Bentuk-Bentuk Perkawinan Menurut Adat Budaya Muna. Kendari : Makalah dalam seminar KEPPMI.

Miles, Mattew B dan Huberman, A Michael. 2009. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

Nur, Muhamad. 2011. Kawia : Tradisi Adat Perkawinan Pada Masyarakat Wolio. Kendari : Tesis Program Studi Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Haluoleo.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Pradopo. 2001. Kajian Semiotik. Yogyakarta : Studi Sastra.

Prio, Zainal. 2007. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Penyelenggaraan Adat Perkawinan Masyarakat Suku Muna di Kabupaten Muna. Program Pascasarjana UIN Alaudin. Makassar. (Tesis tidak dipublikasi)

Ritzer, George dan Douglas, J Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Yogyakarta: Averroes Press dan Pustaka Pelajar.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana.
Section
Volume 1 Nomor 1, Januari - Juni 2018