PERAN TRADISI PEAMBO BAGI KEHIDUPAN ANAK DI DESA PEBAOA KECAMATAN KULISUSU UTARA KABUPATEN BUTON UTARA

Authors

  • Veni Gusniar
  • La Niampe
  • Wahyu Rustiani Komang

Keywords:

Tradisi, Peambo, Pebaoa

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana proses pelaksanaan tradisi Peambo pada bayi di Desa Pebaoa Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara?, (2) Fungsi apa yang terdapat dalam  tradisi Peambo bagi masyarakat Desa Pebaoa Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara?, (3) Makna apa yang terkandung didalam tradisi Peambo bagi masyarakat Desa Pebaoa Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara?. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara langsung serta dokumentasi.  Penentuan informan ditentukan secara purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tradisi Peambo merupakan salah satu tradisi yang masih dipercayai oleh masyarakat lokal, dalam melakukan pencukuran rambut bayi. Tradisi Peambo masih di pegang teguh oleh masyarakat lokal karena memiliki makna sebagai pembersih jiwa raga bagi bayi yang baru lahir dengan usia delapan atau empat puluh hari. Pada masyarakat dulu, dalam melakukan ritual Peambo meng gundul bersih rambut si bayi pada saat proses ritual Peambo. Dan peran tradisi Peambo ini adalah sebagai berikut: (1) Sebagai bentuk pembersih jiwa anak, (2) Berperan Sebagai Penyembuh Penyakit Bawaan,  (3) Berperan Sebagai Pengenalan Budaya Pada Anak di Desa Pebaoa (4) Berperan Sebagai Pengenalan Agama Islam Kepada Anak di Desa Pebaoa. Fungsi tradisi Peambo bagi masyarakat yaitu berfungsi sebagai pemererat rasa kekeluargaan dan rasa persaudaraan serta rasa saling membantu satu sama lain antar sesama masyarakat. Makna tradisi Peambo bagi masyarakat adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengaruniai keturunan kepada penyelenggara Peambo, memberi keselamatan bagi bayi dan ibu dari bayi tersebut, sehingga masyarakat melaksanakan tradisi ini. Proses pelaksanaan tradisi Peambo terdiri dari (1) Tahap persiapan ritual yaitu mengumpulkan alat-alat dan bahan dan musyawarah dalam proses pelaksanaan Peambo, (2) Tahap pelaksanaan ritual yaitu pobaca’a dho’a, haroa dhulano ana, pompaheia karuno ana, molawa ana, haroa dho’a salama (3) Tahap penutup

References

Bronislaw, Malinowski. (1994 ). Teori Ilmiah Budaya Dan Esai Lainnya. Chapel Hill: Pers Universitas Corolina Utara.

Dahri, Harapandi. ( 2009 ). Tobat Jejak Cinta Keluarga Nabi: Di Bengkulu. Jakarta: Citra.

Endraswara, Suwardi. (3003). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Ib. Wirawan. (2012). Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mardimin. (1994). Transformasi Budaya Menuju Masyarakat Indosia Modern. Yogyakarta: Kanisus.

Miles, Matthew B. & A. Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI – Press.

Moleong, L. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moleong, Lexi J. (2007). Metodologoi Penelitian Kualitatif. Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset. Bandung.

Rahman. (2001). Sistem Sosial Budaya. Yogyakarta. Kanisius.(buku)

Ritzer, Georgi dan Goodman, Doughlas J. (2004). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Sari, Mustika and Agussalim, Andi, 2020. Analisis Makna Simbolik Attompolok ‘Akikah’ Pada Masyarakat Makassar di Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar. Skripsi, Universitas Negeri Makassar.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kulitati dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta Bandung.(buku)

Soekanto. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Gratindo Perssada.

Soerman, Anton. (2003). Pengantar Antropologi 1. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Suryono, Aryono. (1985). Kamus Antropologi. Jakarta: Persindo.

Tjay Dan Sudarminta. (2005). Epistemologi Dasar Pengantar Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.

Skripsi:

Hasaruddin, Munadiyah. (2010). Ritual Aqiqah Di Desa Kalemandalle Kecamatan Banjeng Barat Kabupaten Gowa. Jurnal Berita Sosia. Makasar: UIN Alaudin Makassar.

Nuryani, Dewi. (2011). Kajian Folklore Upacara Tradisi Bersih Di Desa Weton Kuron Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Sulaiman. Sulaiha. (2016). Pelaksanaan Aqiqah Di Desa Leppangan Kecamatan Petampanua Kabupaten Pinrang. Skripsi Tidak Diterbitakan. Makassar; UIN Alaudin Makassar.

Peursen, Van. (1998). Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.(buku)

Putri, Hasmina, 2018. Makna Tuturan Tradisi Kabengka di Desa Lambale Kecamatan Kulisusu Utara Kabupaten Buton Utara. Skripsi, Universitas Halu Oleo.

Jurnal:

Afipuddien dan Sugiyono. (20018). Pengaruh Dukungan Organisasi, Komitmen Efektif Dan Perilaku Ekstra Peran Terhadap Kinerja Karyawan Pt. Nur Medina Intermedia. Vol 2, No.1.

Marhani. (2018). Nilai Budaya Mapano Dalam Pelaksanaan Aqiqah Pada Masyarakat Bulisu Kecaman Batulappa. Jurnal Al-Mayyah. Parepare. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare.

Internet:

https://onesearch.id/Record/memang-dalam-hadits-tentang-aqiqah-dan-diberi-nama

https://www.mumtazaqiqah.com/2020/01/04/dalil-dalil-hadits-tentang-ibadah-aqiqah/

Downloads

Published

2023-05-25

Issue

Section

Volume 6 Nomor 1, Januari-Juni 2023