##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Sasmawati Sasmawati Syamsumarlin Syamsumarlin Hasniah Hasniah

Abstract

Polangu komata: bantal permata dalam adat perkawinan Wali (Sarano Wali) di Kelurahan Wali bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna simbol dari polangu komata (bantal permata) dalam adat perkawinan Wali (Sarano Wali) dan untuk mengetahui dinamika polangu komata dulu dan sekarang. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan teori simbol menurut Victor Turner. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan  menggunakan metode penelitian etnografi. Data diperoleh melalui pengamatan terlibat (participation observation) dan wawancara mendalam (indeepth interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa makna simbol dari polangu komata dilihat dari lingkaran arah panah (benang emasnya), dimana lingkaran arah panah itu sendiri menyimbolkan manusia, kalau seperti polangu komata dari golongan bangsawan, lingkaran arah panahnya masuk di dalam (makna dari dalam itu menggambarkan dia “perempuan” dari dalam kerajaan yang harus dilindungi). Polangu komata untuk golongan siolimbona lingkaran arah panahnya keluar dari garis lingkaran, itu menyimbolkan dia perempuan dari luar kerajaan”. Sedangkan polangu komata ake (bentuknya persegi panjang), menyimbolkan perempuan benar-benar dari keturunan bangsawan. Adapun dinamika bantal permata yaitu, bantal permata paluala inunca dan ake yang warnah benang emasnya remang-remang (pudar), jenis bantal permata ini diperuntukan bagi golongan bangsawan yang sudah tidak terlalu kentara/diragukan status kebangsawannya. Namun sekarang masyarakat sudah tidak mempermasalahkannya lagi, bahkan untuk golongan bangsawan yang tidak diragukan dan golongan bangsawan yang masih diragukan sama-sama menggunakan bantal permata yang warnah benang emasnya terang.

References
Abidin. S. (2001). Makna Simbolik Popolo (Mas Kawin) dan Perubahannya dalam Sistem Perkawinan Adat Tolaki di Kelurahan Ambalodangge Kecamatan Lainea Kabupaten Kendari. Skripsi: Universitas Halu Oleo Kendari.

Chakim, M Lutfi. (2012). Perkawinan Menurut Hukum Adat dan Menurut Hukum Islalam. Dalam http://www.lutfichakim.com/2012/01/perkawinan-menurut-hukum-adat-dan.html. Diakses tanggal; 14 Januari 2019.

Jayanti, Vitria Dwi. (2013). Makna Simbol Dalam Upacara Pernikahan Adat Sunda Perspektif Teori Bentuk Simbolik Ernst Cassirer. Skripsi: Universitas Gadjah Mada.

Octaviana, Frisca. (2014). Implementasi Makna Simbolik Prosesi Pernikahan Adat Jawa Tengah Pada Pasangan Suami Istri. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Spradley, James P. (1997). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

UU No. 1 Thn (1974). Tentang Perkawinan. Dalam http://hukum.unsrat.ac. id/uu/uu_1_74.htm. Diakses tanggal; 14 Januari 2019.

Winangun, Wartaya. (1990). Masyarakat Bebas Struktur: Liminalitas dan Komunitas Menurut Victor Turner. Yogyakarta: Kanisius.

Windyarti, Retno.(2015). Makna Simbolik Serah-Serahan Dalam Upacara Perkawinan Adat Jawa Di Desa Tanjung Belit Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Kampus Bina Widya: Pekan Baru. Folume 2 No. 2

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

Section
Volume 4, Nomor 2, Juli - Desember 2020